Wednesday, August 27, 2008

Penderita Diabetes Tetap Bisa Berpuasa


Diabetes

TEMPO Interaktif, Jakarta: Marhaban ya Ramadan. Ungkapan itulah yang dikumandangkan umat Islam menyambut bulan suci Ramadan. Mengingat puasa wajib bagi umat Islam, sering kali timbul pertanyaan, bagaimana dengan pasien penyakit kronis, seperti diabetes melitus? Apakah langkah ini bisa membahayakan kesehatannya?

Maklum, pada pasien diabetes terdapat kekurangan jumlah dan atau kualitas insulin sehingga kemampuan menyimpan sisa energi yang masuk menjadi berkurang. Namun, sebenarnya pasien diabetes yang kadar gula darahnya terkontrol, cadangan energinya masih relatif cukup baik meskipun tidak senormal orang tanpa diabetes sehingga tidak ada masalah bila berpuasa.

"Asalkan dilakukan dengan perencanaan makan sehingga kadar gula darah tetap terkontrol," ujar Dr Dante Saksono Harbuwono, SpPD-PhD dalam simposium mini yang digelar Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu.

Diabetes melitus adalah kondisi kadar glukosa dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan cukup insulin. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.

Menurut Dante, banyak penelitian mengenai pasien diabetes yang berpuasa. Hasilnya memperlihatkan tidak ada efek buruk yang terjadi selama berpuasa. Bahkan beberapa pasien menunjukkan perbaikan kadar gula darah disertai dengan penurunan berat badan. "Dengan catatan, glukosa darah cukup terkontrol dan mengikuti petunjuk yang diberikan," ia mengingatkan.

Nah, berpuasa bagi pasien diabetes dengan kadar gula darah tidak terkontrol sehingga cadangan energinya tidak mencukupi bisa memicu terjadinya pemecahan lebih awal sumber energi lain, seperti lemak. Kondisi ini berisiko terjadinya komplikasi akut atau bahkan bila tidak berhati-hati dalam pengaturan obat, bisa mengakibatkan kekurangan gula darah (hipoglikemia).

Pasien diabetes yang memerlukan obat hipoglikemik oral (OHO) untuk mengontrol kadar gula darahnya masih diperbolehkan menjalani puasa, dengan catatan melakukan penyesuaian konsumsi OHO. Pasien diabetes yang membutuhkan atau ketergantungan pada suntikan insulin sekali dalam sehari dengan motivasi kuat dan pemantauan yang baik serta berada dalam pengawasan ekstra ketat, khususnya terhadap risiko hipoglikemia, masih dapat berpuasa. Begitu juga pasien diabetes yang membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin sekali sehari.

Namun, tidak semua penderita diabetes aman menjalani puasa. Ada kondisi pasien tertentu yang tidak diperbolehkan menjalani puasa, seperti mereka yang membutuhkan insulin dua kali atau lebih dalam sehari. Begitu juga kelompok pasien diabetes yang membutuhkan kombinasi obat OHO dengan insulin dua kali atau lebih dalam sehari. "Kelompok ini dianggap kadar gula darahnya tidak stabil," Dante menjelaskan.

Pasien diabetes yang memiliki komplikasi berat, seperti gagal ginjal atau gagal jantung, sebaiknya tidak berpuasa. Sebab, berpuasa malah dapat memperberat komplikasi yang sudah terjadi. Begitu juga pasien diabetes yang tengah berbadan dua karena puasa dapat membahayakan janinnya.

Dante mengingatkan, pasien diabetes harus berhenti puasa apabila kadar gula darahnya terlalu rendah (kurang dari 60 mg/dL), dua jam setelah sahur dicek darahnya ternyata gula darah kurang dari 80 mg/dL, atau di atas 250 mg/dl (hiperglikemia). "Jika sudah demikian, berhenti saja, jangan dipaksakan, karena membahayakan, dapat menyebabkan terjadi komplikasi," katanya. MARLINA


Pola Makan Khusus

  1. Makan harus sesuai dengan kebutuhan kalori dan nilai gizi seimbang dengan yang dianjurkan sebelum puasa.
  2. Jangan "balas dendam". Hindari makan makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi dan lemak sekaligus. Atur pembagian porsi makan: 40 persen dikonsumsi waktu sahur, 50 persen waktu berbuka, dan 10 persen sebelum tidur (sesudah salat tarawih).
  3. Makan sahur selambat mungkin dan berbuka sesegera mungkin.
  4. Saat sahur, jangan minum terlalu banyak karena akan menyebabkan urine keluar lebih banyak. Kondisi ini bisa menimbulkan dehidrasi di siang hari. Minumlah sebanyak mungkin setelah berbuka. Jangan sampai kurang minum karena orang diabetes cenderung mengalami dehidrasi.
Sumber: www.tempointeraktif.com

No comments: