TEMPO Interaktif, Jakarta : Kapan terakhir kalinya kita mengajak anak bermain ayunan, perosotan, lempar-melempar bola, atau menerbangkan layang-layang? Mungkin sudah lama sekali. Kita pun bisa jadi tak pernah lagi mengajak anak-anak untuk mengenal serunya bermain gobak sodor, petak umpet, lompat karet, atau permainan luar ruang lain yang jadi kegemaran kita waktu kecil dulu.Sekarang, anak-anak lebih akrab dengan permainan mutakhir games favoritnya, serta menghabiskan waktu luangnya di depan televisi untuk menonton serial kegemarannya. Atau, sendirian membaca komik, bermain boneka serta robot-robotan. Mereka pun lebih suka diajak pergi ke mal, dan lagi-lagi menikmati riuh rendahnya games pada arena hiburan dan permainan di sana. Pendeknya, permainan luar ruang kini semakin kehilangan pamor di kalangan anak-anak.
Padahal, permainan luar ruang punya lebih banyak manfaat buat anak-anak ketimbang seri terbaru video games yang jadi favorit mereka saat ini. Video games kebanyakan hanya melatih sebagian kecil fungsi tubuh, seperti otot jari tangan dan bagian otak tertentu saja. Dari sisi yang lebih ekstrim, gara-gara video games malah anak-anak berpotensi memiliki sifat agresif yang tinggi, akibat diperkenalkannya unsur kekerasan pada permainan itu.
Sebaliknya, main di luar ruang lebih banyak melatih kemampuan anak. Lewat kegiatan main luar ruang, anak menggunakan segala kemampuan fisiknya, sambil berinteraksi dengan anak-anak sebayanya. Ini memberi kesempatan anak belajar banyak hal. Diane E. Papalia, seorang ahli perkembangan manusia, menjelaskan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dengan bermain, anak-anak menggunakan otot tubuhnya dan menstimulasi indra-indra tubuhnya. Ia juga mengeksplorasi dunia sekitarnya, sehingga menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali, dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri.
Dengan bermain, anak-anak pun menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru, serta belajar kapan harus menggunakan keahlian tersebut. “Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain juga akan berkembang,” tulis Papalia dalam bukunya, Human Development.
Manfaat itu jelas tak akan muncul optimal dengan bermain video games atau robot-robotan. Hanya ada di permainan luar ruang. Kita mungkin sulit menemukan lagi permainan gobak sodor, petak umpet, atau layang-layang.
Jadi, mulailah memperkenalkan permainan luar ruang kepada anak kita. Pilihkan agar mereka bisa belajar banyak dari kegemaran bermainnya.
Sumber: www.tempointeraktif.com
No comments:
Post a Comment